Jaga Surplus Neraca Dagang, Mendag Pacu Diversifikasi Ekspor

Jaga Surplus Neraca Dagang, Mendag Pacu Diversifikasi Ekspor
tumpukan peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta [FOTO: NET].

JAKARTA - Kementerian Perdagangan (Kemendag) menegaskan bahwa langkah diversifikasi pasar dan komoditas ekspor menjadi strategi pemerintah dalam memelihara kinerja neraca perdagangan Indonesia agar tetap membukukan surplus di tengah dinamika serta ketidakpastian ekonomi global.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menerangkan, raihan surplus neraca perdagangan pada Juli 2026 yang mencapai US$0,12 miliar membuktikan kinerja perdagangan nasional tetap stabil. Pencapaian ini disokong oleh sektor nonmigas yang mencetak surplus US$3,10 miliar, sehingga mampu menutupi defisit sektor migas sebesar US$2,98 miliar.

“Surplus perdagangan pada Juli 2026 menunjukkan kinerja ekspor Indonesia tetap terjaga. Diversifikasi pasar dan komoditas ekspor perlu terus diperkuat untuk meningkatkan kontribusi perdagangan nonmigas. Pemerintah akan terus mendorong pelaku usaha untuk memanfaatkan peluang di berbagai pasar tujuan serta memperluas pasar ekspor produk Indonesia,” kata Budi dalam keterangan tertulis, dikutip pada Kamis (3/9/2026).

Budi memaparkan, pemerintah bakal menjaga keseimbangan antara penguatan pasar dalam negeri dan ekspansi ekspor lewat peningkatan daya saing produk, penambahan nilai tambah, serta perluasan pasar tujuan.

“Pemerintah akan terus menjaga keseimbangan antara penguatan perdagangan dalam negeri dan peningkatan ekspor sehingga kinerja perdagangan Indonesia tetap tumbuh dan berkelanjutan,” ujarnya.

Secara kumulatif, Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan mencapai US$3,70 miliar sepanjang rentang Januari—Juli 2026. Perolehan tersebut bersumber dari perdagangan nonmigas sebesar US$22,45 miliar yang berhasil mengimbangi defisit migas senilai US$18,75 miliar.

Jika ditinjau dari negara mitra, Amerika Serikat (AS) menjadi penyumbang surplus terbesar bagi Indonesia dengan nilai US$10,48 miliar. Disusul oleh India dengan surplus US$7,80 miliar, dan Filipina sebesar US$4,95 miliar. Sebaliknya, China mencatatkan defisit terdalam bagi Indonesia sebesar US$16,94 miliar, diikuti Singapura US$5,14 miliar, serta Australia US$4,77 miliar.

Pada Juli 2026, total nilai ekspor Indonesia menyentuh US$26,22 miliar, atau naik 2,98% dibandingkan Juni 2026 dan tumbuh 6,05% secara tahunan (*year-on-year*/yoy). Ekspor nonmigas menjadi tumpuan utama dengan nilai US$25,43 miliar, naik 4,25% secara bulanan (month-to-month/mtm) dan 6,84% yoy.

Pertumbuhan ekspor nonmigas secara bulanan pada Juli 2026 terutama ditopang oleh mesin dan peralatan mekanis (HS 84) yang melonjak 23,05%, tembaga dan barang daripadanya (HS 74) naik 21,20%, serta pakaian dan aksesorinya bukan rajutan (HS 62) meningkat 20,65%. Namun, beberapa komoditas mencatatkan penurunan, seperti logam mulia dan perhiasan/permata (HS 71) yang merosot 45,07%, nikel dan barang daripadanya (HS 75) turun 38,25%, serta lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) terkoreksi 6,21%.

Secara akumulatif, total nilai ekspor Indonesia periode Januari—Juli 2026 menembus US$167,03 miliar atau tumbuh 4,43% dibandingkan periode serupa tahun sebelumnya. Adapun ekspor nonmigas saja tercatat mencapai US$160,01 miliar atau tumbuh 5,21%.

Industri Pengolahan Jadi Penopang Ekspor

Sektor industri pengolahan terus menjadi tulang punggung utama ekspor nasional. Sepanjang Januari—Juli 2026, ekspor industri pengolahan tumbuh 7,16% dibandingkan periode yang sama pada 2025, dengan porsi menyumbang 82,18% terhadap total ekspor. Sementara itu, sektor pertambangan dan lainnya memberikan kontribusi 11,73%, migas 4,20%, serta pertanian 1,89%.

Menurut Budi, dominasi sektor manufaktur ini menegaskan krusialnya peningkatan nilai tambah komoditas lokal demi memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar internasional.

“Industri pengolahan menjadi salah satu kekuatan utama ekspor Indonesia. Penguatan nilai tambah melalui hilirisasi dan peningkatan daya saing produk ekspor perlu terus dilakukan agar semakin banyak produk Indonesia mampu menembus pasar global,” ujarnya.

Berdasarkan komoditasnya, aluminium dan barang daripadanya (HS 76) mencatat pertumbuhan ekspor nonmigas tertinggi sepanjang Januari—Juli 2026 sebesar 85,78%. Peningkatan diikuti nikel dan barang daripadanya (HS 75) sebesar 49,84%, serta tembaga dan barang daripadanya (HS 74) sebesar 36,14%. Sebaliknya, komoditas dengan penurunan paling tajam yakni logam mulia dan perhiasan/permata (HS 71) sebesar 40,08%, disusul kayu dan barang dari kayu (HS 44) sebesar 3,89%, serta karet dan barang dari karet (HS 40) sebesar 3,18%.

Impor Melonjak, Bahan Baku Dominasi

Nilai impor Indonesia pada Juli 2026 berada di angka US$26,09 miliar, atau naik 0,72% dibandingkan Juni 2026 dan melonjak 27,02% dibandingkan Juli 2025. Kenaikan impor didorong oleh kelompok nonmigas yang tumbuh 4,57% mtm menjadi US$22,33 miliar, sedangkan impor migas melandai 17,33% menjadi US$3,77 miliar.

Sepanjang Januari—Juli 2026, akumulasi nilai impor Indonesia mencapai US$163,33 miliar atau melambung 19,94% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Impor nonmigas mencatatkan nilai US$137,56 miliar (tumbuh 16,78%), sementara impor migas mencapai US$25,77 miliar (meningkat 40,24%).

Dilihat dari kategori penggunaannya, bahan baku dan penolong mendominasi struktur impor dengan pangsa 71,45% sepanjang Januari—Juli 2026. Barang modal menyumbang 19,88%, sedangkan barang konsumsi sebesar 8,67%. Gabungan bahan baku/penolong dan barang modal mendominasi 91,33% dari total impor Indonesia.

Dari sisi laju pertumbuhan, impor bahan baku dan penolong naik 20,42%, barang modal tumbuh 20,00%, dan barang konsumsi meningkat 16,03% dibandingkan periode Januari—Juli 2025.

“Komposisi impor sebagian besar berasal dari bahan baku dan penolong serta barang modal yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan produksi dan investasi di dalam negeri. Oleh karena itu, perkembangan impor perlu dilihat secara proporsional berdasarkan jenis dan penggunaannya,” tandas Budi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index