MORA Caplok Kredit Rp 4 Triliun dari BCA untuk Bangun Jaringan Internet

MORA Caplok Kredit Rp 4 Triliun dari BCA untuk Bangun Jaringan Internet

EDUKASIEKONOMI.COM — Keputusan menambah utang ini bukan tanpa alasan. Manajemen MORA menyatakan dana segar tersebut menjadi bagian dari strategi pendanaan jangka panjang untuk mendukung pengembangan jaringan. Targetnya jelas: memperluas jangkauan konektivitas digital di Indonesia, terutama di wilayah-wilayah yang dinilai strategis.

Dana yang ditarik tidak akan masuk ke kantong perusahaan untuk kebutuhan operasional rutin. Berdasarkan keterbukaan informasi yang dipublikasikan pada Selasa (2/9), seluruh fasilitas kredit akan dialokasikan untuk belanja modal pembangunan homepass. Termasuk di dalamnya pengadaan perangkat pelanggan atau Customer Premises Equipment (CPE), serta sarana dan prasarana pendukung lainnya.

Pinjaman Baru untuk Fiber, Bukan untuk Jaringan Nirkabel

Ada satu pengecualian penting dalam penggunaan pinjaman ini. MORA menegaskan dana tersebut tidak akan digunakan untuk membangun homepass yang terkait layanan Fixed Wireless Access (FWA) beserta infrastruktur pendukungnya.

Homepass sendiri merupakan istilah teknis untuk menandakan sebuah rumah atau bangunan yang sudah teraliri jaringan telekomunikasi. Secara sederhana, semakin banyak titik homepass yang dibangun, semakin luas pula area yang secara teknis siap dilayani oleh operator untuk koneksi internet. Pembangunan ini menjadi fondasi bagi MORA untuk menjaring pelanggan fixed broadband baru.

Jangka Waktu Utang dan Jaminan Aset

Secara struktur, fasilitas kredit investasi dari BCA ini memiliki tenor maksimal tujuh tahun sejak perjanjian ditandatangani, termasuk masa tenggang atau grace period hingga satu tahun.

Untuk mengamankan pinjaman sebesar itu, MORA menggadaikan sejumlah aset. Agunan utamanya berupa jaminan fidusia atas aset yang dibiayai langsung oleh kredit ini, seperti homepass dan peralatannya, plus hasil klaim asuransi. Nilai agunan yang disiapkan minimal 125 persen dari jumlah pokok pinjaman. Selain itu, MORA juga menyerahkan gadai atas beberapa rekening perseroan yang berada di BCA.

Kenapa Utang Baru Dinilai Penting bagi Perusahaan?

Menurut catatan manajemen, tambahan likuiditas ini diperlukan untuk menjaga ruang gerak keuangan perusahaan. Harapannya, operasional tetap lancar dan stabilitas keuangan terjaga di tengah rencana ekspansi besar-besaran.

Namun, manajemen juga terbuka mengenai konsekuensinya. Penambahan kredit ini dipastikan akan menaikkan beban kewajiban keuangan perseroan. Meski begitu, mereka mengklaim rasio utang masih berada dalam batas yang diperbolehkan dalam berbagai perjanjian yang sudah dimiliki, termasuk perjanjian perwaliamanatan Sukuk Ijarah Berkelanjutan II Moratelindo.

Respons Analis: Ada Peluang, tapi Tetap Waspada

Langkah korporasi ini mendapat respons positif dari kalangan analis. Elandry Pratama, Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, menilai tambahan kredit dari BCA memberikan ruang bagi MORA untuk berakselerasi.

"Menurut saya tambahan kredit investasi Rp 4 triliun dari BCA cukup positif bagi MORA karena memberikan ruang untuk mempercepat ekspansi jaringan homepass, memperluas coverage, dan meningkatkan basis pelanggan," ujar Elandry.

Ia menambahkan, jika pembangunan jaringan ini berhasil diikuti dengan kenaikan jumlah pelanggan dan utilisasi jaringan, maka dalam jangka menengah pendapatan berulang (recurring revenue) perusahaan berpotensi menguat. Namun, investor tetap perlu cermat memantau eksekusi di lapangan. Keberhasilan skenario positif tersebut bergantung pada seberapa cepat jaringan yang dibangun bisa menarik pelanggan baru. Jika tidak, beban utang yang membengkak justru bisa menjadi tekanan baru bagi kinerja keuangan perseroan ke depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index