JAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan aktivitas gempa di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai memperlihatkan tren penurunan pada hari ke-24 pascabencana. Jumlah warga yang masih berada di tempat pengungsian juga mengalami penurunan drastis menjadi 72.864 jiwa dari sebelumnya mencapai 179.037 jiwa.
Kepala BNPB Suharyanto menyampaikan bahwa semenjak gempa pertama kali terjadi pada 15 Agustus 2026 sampai dengan Senin (7/9/2026), tercatat ada 13.156 kali gempa. Meskipun demikian, saat memasuki minggu keempat, intensitas kegempaan mulai mereda.
"Di minggu keempat ini sudah mulai turun, tercatat ada 364 kejadian gempa yang tidak signifikan dirasakan oleh masyarakat," kata Suharyanto saat memberikan laporan kepada Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Terbatas Penanganan Bencana Alam Gempa NTT, Erupsi Anak Gunung Krakatau, dan Perkembangan Penanganan Karhutla bersama para kepala daerah, Senin (7/9/2026).
Menurut Suharyanto, secara keseluruhan situasi kegempaan di Flores memperlihatkan penurunan. Kendati demikian, aktivitas gempa diprediksi belum sepenuhnya berhenti dalam waktu dekat.
"Untuk berhenti secara total kembali seperti semula ini masih memerlukan waktu kurang lebih satu bulan," ujarnya.
Dari aspek korban jiwa, BNPB mencatat 48 orang meninggal dunia secara langsung akibat gempa. Di sisi lain, terdapat 87 korban meninggal dunia secara tidak langsung di seluruh wilayah Flores.
Suharyanto menegaskan bahwa tidak ada penambahan korban jiwa yang diakibatkan oleh gempa susulan. Adapun korban meninggal tidak langsung sebagian besar berkaitan dengan kondisi kesehatan, perawatan medis, penyakit bawaan, maupun kematian alami.
Seiring dengan berkurangnya intensitas gempa, jumlah pengungsi pun terus menyusut. Masyarakat yang rumahnya mengalami kerusakan ringan serta sedang mulai pulang ke tempat tinggal masing-masing setelah situasi dinilai lebih aman.
"Ketika Bapak Presiden datang ke daerah bencana, kami masih melaporkan sebanyak 179.037 jiwa yang masih mengungsi, per hari ini tinggal 72.864 jiwa," kata Suharyanto.
Penduduk yang masih bertahan di pengungsian didominasi oleh warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat. Pemerintah secara bertahap mendirikan hunian sementara (huntara) serta menyalurkan dana tunggu hunian bagi kelompok tersebut.
BNPB juga mulai melaksanakan verifikasi terhadap data kerusakan rumah. Berdasarkan laporan dari tujuh kabupaten/kota, tercatat sebanyak 102.384 unit rumah mengalami kerusakan dalam berbagai kategori.
Dari total tersebut, sejumlah 46.117 unit sudah diverifikasi oleh pemerintah. BNPB turut mendapati rumah yang mengalami kerusakan tetapi tidak masuk ke dalam kriteria rusak ringan, sedang, maupun berat.
"Untuk yang tidak masuk kriteria rusak ini tentu saja nanti diberikan bantuan secara khusus," ujarnya.
Bagi rumah yang mengalami kerusakan ringan, pemerintah mengalokasikan bantuan sebesar Rp15 juta, sementara rumah rusak sedang memperoleh Rp30 juta. Untuk rumah dengan kategori kerusakan berat akan dibangun kembali oleh pemerintah lewat Kementerian Perumahan ataupun BNPB.
Dari sektor logistik, pemerintah telah mendistribusikan 2.142 ton bantuan ke Flores. Sebanyak 1.368 ton disalurkan lewat Labuan Bajo guna mencukupi keperluan empat kabupaten, yakni Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, serta Ngada.
Sementara itu, 629 ton logistik masuk melalui Maumere untuk melayani Kabupaten Sikka, Ende, serta Nagekeo.
Seiring dengan semakin stabilnya penyaluran bantuan, BNPB menutup posko logistik nasional yang berada di Halim Perdanakusuma, Jakarta. Persediaan yang masih tersisa dipindahkan menuju gudang logistik BNPB di Jatiasih.
Walau demikian, pihak pemerintah akan tetap memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak berdasarkan laporan dari pemerintah kabupaten/kota serta posko-posko daerah.
"Setiap kebutuhan masyarakat terdampak ini tetap kami layani atas dasar laporan dari para bupati, wali kota, ataupun posko-posko kabupaten kota di masing-masing daerah terdampak," katanya.
Suharyanto mengungkapkan bahwa layanan kesehatan di Flores secara umum sudah kembali normal. Rumah sakit serta puskesmas telah kembali beroperasi memberikan pelayanan, dengan sokongan tenda-tenda darurat serta rumah sakit lapangan yang masih aktif.
Di samping itu, kapal rumah sakit milik TNI Angkatan Laut telah bertolak kembali ke pangkalan karena pelayanan kesehatan kini sudah bisa ditangani lewat fasilitas kesehatan di daratan.
Kegiatan belajar dan mengajar pun mulai berjalan kembali. Pemerintah menyediakan sekolah darurat berbentuk tenda guna memastikan proses pendidikan anak-anak terdampak tidak terhambat.
Di samping itu, layanan psikososial dan pemulihan trauma terus diberikan kepada warga yang mengalami trauma, rasa cemas, hingga gangguan tidur akibat bencana.
Sementara itu, kondisi kelistrikan, jaringan telekomunikasi, bahan bakar minyak (BBM), air bersih, serta sektor transportasi dilaporkan relatif sudah pulih. Ruas jalan nasional telah berfungsi normal sampai tingkat kabupaten, sedangkan akses jalan menuju tingkat kecamatan dan desa telah pulih secara fungsional.
Seiring dengan membaiknya situasi di lokasi bencana, jumlah personel serta alutsista yang dikerahkan turut mulai dikurangi. Saat ini, BNPB masih menyiagakan satu pesawat Cessna dan satu helikopter di Flores. Keduanya disiapkan guna mengantisipasi segala kebutuhan darurat, mencakup distribusi logistik serta proses evakuasi.
Pengiriman logistik yang berasal dari Jakarta masih dibantu oleh dua pesawat Hercules serta satu pesawat Boeing. Meskipun demikian, armada tersebut tidak ditempatkan secara permanen di NTT.
Dua kapal perang milik TNI AL, yaitu KRI Teluk Semarang dan KRI Teluk Parigi, juga masih dimanfaatkan guna mendukung distribusi logistik via jalur laut.
Pada tingkat daerah, distribusi dari tingkat provinsi hingga kabupaten, kecamatan, desa, serta titik-titik pengungsian dijalankan memakai transportasi darat. BNPB juga tetap menyiagakan personel di lapangan untuk mendampingi pemerintah daerah.
Personel pusat dari Mabes TNI dan Mabes Polri secara bertahap ditarik seiring penanganan bencana mulai diserahkan kembali kepada forum koordinasi pimpinan daerah (Forkopimda).
Suharyanto menyampaikan bahwa pemerintah mulai mempersiapkan transisi dari fase tanggap darurat menuju tahap rehabilitasi serta rekonstruksi. BNPB menilai sejumlah indikator memperlihatkan penanganan darurat telah berjalan secara optimal.
Tidak ada penambahan korban jiwa akibat gempa susulan, distribusi logistik telah merata menjangkau masyarakat, serta kebutuhan dasar seperti listrik, komunikasi, BBM, air bersih, kesehatan, pendidikan, serta transportasi telah berfungsi kembali.
Di samping itu, rumah warga yang mengalami kerusakan ringan dan sedang mulai kembali dihuni. Aktivitas perekonomian dan sosial masyarakat pun berangsur pulih.
"Pasar-pasar tradisional, acara keagamaan, sosial di seluruh Flores ini sudah kembali beroperasi," ujar Suharyanto.
Ia menyebutkan bahwa pasar-pasar telah kembali ramai, sedangkan kegiatan keagamaan, pernikahan, serta aktivitas sosial warga kembali berjalan.
Berdasarkan perkembangan tersebut, Gubernur NTT telah berkoordinasi bersama BNPB untuk meminta masukan mengenai potensi mengakhiri masa tanggap darurat serta melangkah ke tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.
"Secara umum untuk penanganan gempa Flores," kata Suharyanto.