Usai 9 Tahun Absen, RI-Malaysia Bahas DHE hingga Investasi

Kamis, 03 September 2026 | 22:37:31 WIB
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso. (Foto: NET)

JAKARTA — Indonesia dan Malaysia kembali mengaktifkan kerja sama perdagangan dan investasi melalui forum Joint Trade and Investment Committee (JTIC) setelah vakum selama sembilan tahun. 

Forum tersebut membahas sejumlah isu strategis, mulai dari kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE), perdagangan perbatasan, akses pasar, hingga investasi.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan JTIC merupakan forum bilateral untuk memperkuat kerja sama Indonesia dan Malaysia di bidang perdagangan dan investasi. 

Forum tersebut juga menjadi wadah bagi kedua negara untuk membahas isu, tantangan, dan peluang yang menjadi kepentingan bersama.

“JTIC merupakan forum bilateral yang dibentuk untuk memperkuat kerja sama Indonesia dan Malaysia di bidang perdagangan dan investasi sekaligus menjadi wadah bagi kedua negara untuk membahas berbagai isu, tantangan, dan peluang yang menjadi kepentingan bersama,” kata Budi dalam The 4th Indonesia-Malaysia Joint Trade and Investment Committee (JTIC) Ministerial Meeting di Auditorium Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, Kamis (3/9/2026).

Menurut Budi, pertemuan tingkat menteri tersebut juga menjadi bagian dari upaya memastikan berbagai kerja sama dan kesepakatan bilateral dapat ditindaklanjuti serta memberikan manfaat bagi kedua negara. 

Dalam pertemuan itu, Indonesia dan Malaysia sepakat memperkuat kerja sama perdagangan dan investasi melalui berbagai mekanisme yang relevan.

Kedua negara juga berkomitmen memastikan implementasi Border Trade Agreement berjalan efektif untuk memfasilitasi perdagangan perbatasan dan memperkuat konektivitas ekonomi, terutama di kawasan perbatasan. 

Pembahasan turut mencakup akses pasar dan fasilitasi perdagangan, termasuk produk pertanian dan pangan, guna menyelesaikan berbagai hambatan perdagangan bilateral.

Di bidang investasi, Indonesia dan Malaysia sepakat memperkuat kolaborasi serta mendorong iklim investasi yang kondusif. Kerja sama di sektor e-commerce, pertanian, produk halal, dan standar juga akan terus dilanjutkan demi memperdalam integrasi ekonomi kedua negara.

Menteri Investasi, Perdagangan, dan Industri Malaysia Datuk Seri Johari Abdul Ghani menyatakan bahwa pertemuan JTIC kali ini menjadi momentum penting untuk kembali mempererat hubungan ekonomi bilateral setelah sempat terhenti selama hampir satu dekade.

“Ini adalah pertemuan yang belum kami adakan selama sembilan tahun. Ini merupakan pertemuan keempat, dan saya telah mengundang Pak Budi tahun depan untuk datang ke Kuala Lumpur untuk mengadakan pertemuan Joint Trade and Investment Committee kelima di Kuala Lumpur tahun depan,” kata Johari.

Salah satu fokus pembahasan adalah implementasi Border Trade Agreement yang disepakati pada 2023 dan resmi berlaku pada Juli 2026. Perjanjian tersebut diharapkan mampu mendongkrak aktivitas ekonomi di wilayah perbatasan kedua negara.

Kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Indonesia juga tidak luput dari pembahasan. Johari menyampaikan bahwa pihak Malaysia memahami sepenuhnya latar belakang di balik penerapan kebijakan tersebut dan siap mematuhinya.

“Kami juga berupaya memahami kebijakan Devisa Hasil Ekspor yang diperkenalkan Indonesia, dan kami mulai memahaminya. Kami tahu alasan di balik kebijakan tersebut. Sebagai komunitas bisnis Malaysia, kami akan mendukung kebijakan itu. Apa pun yang baik untuk Indonesia, jika kami ingin datang ke sini untuk berbisnis, kami akan terus mematuhi kebijakan yang diterapkan Indonesia,” tuturnya.

Menutup rangkaian pertemuan, Johari mengungkapkan bahwa Malaysia telah mencatatkan realisasi investasi sekitar 70 miliar ringgit atau setara dengan US$17 miliar di Indonesia selama tiga tahun berturut-turut pada 2023, 2024, dan 2025. 

Pihaknya bertekad untuk menjaga tren positif tersebut sekaligus menjadikan penguatan ekonomi bilateral ini sebagai batu loncatan guna meningkatkan perdagangan intra-Asean.

Terkini