JAKARTA - Penjualan mobil nasional mengalami penurunan pada tahun 2025. Faktor daya beli masyarakat dan kehadiran mobil listrik menjadi tantangan utama yang memengaruhi kinerja emiten otomotif pada 2026.
Meski begitu, sejumlah analis melihat peluang pada saham otomotif tertentu. Pertimbangan utama meliputi kinerja keuangan solid, ekspansi pasar, serta strategi adaptasi terhadap tren kendaraan listrik.
PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) dan Ekspansi Internasional
PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) mencatat kinerja positif sepanjang 2025. Perseroan memperoleh laba bersih sebesar Rp 2,20 triliun, naik 8,37% secara year on year (yoy).
Pendapatan bersih AUTO juga meningkat 4,35% yoy, dari Rp 19,07 triliun menjadi Rp 19,90 triliun. Pertumbuhan ini sejalan dengan langkah ekspansi perusahaan ke pasar Filipina melalui Astra Otoparts Philippines Inc. (AOPP) dan Astra Visteon Philippines Inc. (AVP).
Ekspansi ditandai dengan pengiriman perdana enam komponen kendaraan roda dua ke Honda Philippines Inc. Langkah ini memperkuat posisi AUTO dalam rantai pasok Original Equipment Manufacturer (OEM) sekaligus memperluas jejak internasional perseroan.
Rekomendasi untuk saham AUTO adalah Buy dengan target harga Rp 3.500. Rekomendasi ini disampaikan oleh Christopher Rusli, Ciptadana Sekuritas Asia, dalam riset pada 4 Maret 2026.
PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) dengan Peluang Pasar Aftermarket
PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) membukukan pertumbuhan kinerja yang solid pada 2025. Pendapatan perseroan mencapai Rp 5,9 triliun, meningkat 8% yoy, sementara laba bersih naik 13% yoy menjadi Rp 653 miliar.
DRMA mempertahankan posisi kuat di segmen OEM, meski eksposur terhadap pasar pengganti (aftermarket) masih relatif terbatas. Ke depan, DRMA memiliki peluang ekspansi signifikan di pasar aftermarket, terutama pada segmen baterai pengganti yang dinilai dapat menjadi katalis pertumbuhan baru.
Rekomendasi saham DRMA adalah Buy dengan target harga Rp 1.150. Pernyataan ini disampaikan oleh Paulina Margareta, Maybank Sekuritas, dalam risetnya pada 18 Maret 2026.
PT Astra International Tbk (ASII) dan Strategi Menjaga Pangsa Pasar
PT Astra International Tbk (ASII) mencatat laba bersih sebesar Rp 32,77 triliun pada 2025, turun 3,3% yoy. Penurunan ini dipengaruhi oleh melemahnya kontribusi penjualan mobil baru.
Namun, segmen sepeda motor tetap kuat, membantu menjaga kinerja keseluruhan perusahaan. Tren konsumen yang beralih ke kendaraan entry-level turut membantu mempertahankan volume penjualan, sementara berakhirnya insentif kendaraan listrik mendorong permintaan mobil ICE dan HEV.
Astra mampu mempertahankan dominasi pangsa pasar sepeda motor Honda di atas 75%. Momentum pameran otomotif serta faktor musiman diyakini mendukung pemulihan penjualan mobil ritel domestik.
Rekomendasi saham ASII adalah Buy dengan target harga Rp 7.200. Hal ini disampaikan oleh Budi Rustanto, OCBC Sekuritas, dalam risetnya pada 4 Maret 2026.
Strategi Adaptasi terhadap Tren Kendaraan Listrik dan ICE
Kehadiran mobil listrik menjadi tantangan sekaligus peluang bagi emiten otomotif. Perusahaan yang mampu menyeimbangkan produksi kendaraan listrik dan ICE memiliki peluang pertumbuhan lebih tinggi pada 2026.
Ekspansi ke pasar internasional serta diversifikasi produk menjadi strategi kunci. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan mempertahankan pendapatan di tengah pergeseran preferensi konsumen dan perubahan regulasi energi.
Prospek Saham Otomotif 2026
Meski penjualan mobil nasional menurun, sejumlah saham otomotif menunjukkan potensi pertumbuhan. Kinerja keuangan yang solid, ekspansi pasar, serta adaptasi terhadap tren kendaraan listrik menjadi faktor penentu rekomendasi Buy.
Investor disarankan memperhatikan saham AUTO, DRMA, dan ASII sebagai pilihan yang strategis. Dengan pertimbangan fundamental, peluang ekspansi, dan tren industri yang terus berkembang, ketiga emiten ini memiliki prospek positif pada 2026.