Rupiah Diproyeksi Defensif di Rp17.769, The Fed Naikkan Bunga ke 3,75%-4%

Rupiah Diproyeksi Defensif di Rp17.769, The Fed Naikkan Bunga ke 3,75%-4%

EDUKASIEKONOMI.COM — Rupiah diperkirakan bergerak defensif pada perdagangan Kamis (17/9/2026) setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4%. Pergerakan di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) relatif stabil dengan penguatan terbatas 0,04% ke Rp17.769 per dolar AS pada 06.11 WIB.

Pasar NDF menunjukkan rupiah sempat menguat 0,12% ke Rp17.754 per dolar AS. Penguatan terbatas itu terjadi di tengah apresiasi dolar Amerika Serikat (AS) usai langkah hawkish Federal Open Market Committee (FOMC).

Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama menguat hingga 100,25. Kenaikan Fed Fund Rate (FFR) sebesar 25 basis poin (bps) ke kisaran 3,75%-4% sudah diperkirakan pelaku pasar sebelumnya.

Mata Uang Asia Bergerak Beragam

Di pasar yang sudah buka, mata uang Asia menunjukkan arah berbeda. Pelemahan terbatas terjadi pada won Korea Selatan, disusul dolar Singapura.

Sebaliknya, yuan China dan dolar Hong Kong berhasil bertahan defensif. Pola ini mencerminkan pelaku pasar masih mencermati dampak kebijakan moneter AS terhadap arus modal di kawasan.

Alasan The Fed Ambil Langkah Hawkish

Ketua The Fed Kevin Warsh menyebut keputusan kenaikan suku bunga diambil melalui pertimbangan panjang. Ia menegaskan langkah itu bukan keputusan tergesa-gesa.

"Keputusan yang kami ambil hari ini adalah keputusan yang matang, serius, dan bertanggung jawab, yang telah kami persiapkan dan pikirkan selama seratus sepuluh atau dua puluh hari saya berada di sini," kata Warsh.

Pernyataan itu menegaskan The Fed tetap fokus mengendalikan inflasi meski pasar sudah mengantisipasi kenaikan tersebut. Suku bunga acuan yang lebih tinggi membuat imbal hasil aset dolar AS lebih menarik.

Tekanan terhadap Rupiah dan Mata Uang Emerging Market

Bagi pelaku pasar Indonesia, kombinasi dolar AS kuat dan suku bunga acuan tinggi menjadi faktor yang membatasi ruang penguatan rupiah. Pergerakan di pasar NDF menjadi acuan awal sebelum pasar spot dibuka.

Penguatan 0,04% ke Rp17.769 per dolar AS di pasar NDF menunjukkan tekanan jual terhadap rupiah masih terkendali. Namun, level tersebut masih mencerminkan posisi rupiah yang rentan terhadap sentimen global.

Pelaku bisnis yang memiliki eksposur utang dolar AS perlu mencermati perkembangan ini. Biaya pendanaan valas berpotensi tetap tinggi selama The Fed mempertahankan sikap hawkish.

Yang Perlu Dicermati Investor

Investor di pasar obligasi dan saham akan menimbang ulang posisi portofolio setelah kenaikan FFR. Yield obligasi AS yang lebih tinggi dapat menarik dana keluar dari pasar emerging market, termasuk Indonesia.

Bank Indonesia sebagai otoritas moneter menghadapi pilihan antara menjaga stabilitas kurs atau mendorong pertumbuhan. Intervensi di pasar valas menjadi instrumen yang lazim digunakan untuk meredam gejolak jangka pendek.

Pergerakan rupiah pada sesi Kamis (17/9/2026) akan menjadi indikator awal seberapa besar dampak kebijakan The Fed terhadap pasar domestik. Pelaku pasar menanti data arus modal asing dan lelang surat berharga negara sebagai petunjuk lanjutan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index