Harga Emas Ditutup US$ 4.376 per Troy Ons, Putus Tren Turun 3 Pekan

Sabtu, 19 September 2026 | 08:43:00 WIB

EDUKASIEKONOMI.COM — Harga emas dunia ditutup di US$ 4.376,91 per troy ons pada perdagangan Jumat (18/9/2026), melesat 0,84% dalam sehari. Penguatan ini mengakhiri tren negatif tiga pekan beruntun sekaligus mencatat level tertinggi sejak 9 September 2026.

Harga emas bangkit setelah tiga pekan tertekan. Sepanjang sepekan terakhir, logam mulia ini menguat 0,68% dan mencatat kenaikan 2,7% hanya dalam dua hari terakhir.

Penutupan Jumat (18/9/2026) menjadi yang tertinggi dalam 10 hari terakhir. Pendorong utamanya adalah anjloknya harga minyak mentah yang meredakan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi berkepanjangan.

Harga Minyak Anjlok, Tekanan Inflasi Mereda

Harga minyak mentah turun 2% pada Jumat, seiring meredanya kekhawatiran soal gangguan pasokan dari Arab Saudi. Chris Gaffney, Presiden World Markets di EverBank, menyebut minyak memang menjadi pendorong utama inflasi secara keseluruhan.

"Investor logam mulia sebelumnya telah memperkirakan kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) dan mengambil banyak posisi short untuk memanfaatkan potensi aksi jual emas. Posisi-posisi tersebut kini dengan cepat ditutup," ujar Gaffney kepada Reuters.

Meski begitu, risiko guncangan pasokan minyak dari Timur Tengah masih menjadi perhatian utama pasar. Ketegangan di kawasan itu bisa kembali mendorong harga minyak naik dan menghidupkan lagi kekhawatiran inflasi.

Emas Melawan Dua "Musuh" Sekaligus

Yang menarik, harga emas tetap melambung meski dua faktor yang biasanya menekannya justru bergerak liar. Indeks dolar AS bertahan di level 100 selama tiga hari beruntun, posisi tertinggi dalam lebih dari tujuh pekan.

Penguatan dolar seharusnya membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun juga tetap menembus 5%, level tertinggi sejak 2007.

Emas tidak menawarkan imbal hasil, sehingga kenaikan yield obligasi biasanya membuat aset ini kurang menarik. Dua anomali tersebut menunjukkan pasar kini mencermati pergerakan harga minyak karena terkait langsung dengan laju inflasi dan suku bunga.

Suku Bunga The Fed Masih Bayangi Pasar

The Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4% pada Rabu pekan ini. Bank sentral AS itu mengisyaratkan masih ada kemungkinan kenaikan lanjutan dalam beberapa bulan mendatang.

Menurut perangkat CME FedWatch, pelaku pasar melihat peluang sekitar 55% untuk kenaikan suku bunga AS berikutnya pada pertemuan Oktober. Suku bunga yang lebih tinggi berpotensi mengurangi daya tarik emas karena aset berbunga jadi lebih menguntungkan.

Secara tradisional, emas masih dipandang sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi. Namun, tekanan dari kebijakan moneter ketat membuat posisinya tahun ini tidak selalu linear.

Permintaan India Lesu, China Stabil

Permintaan emas di India cenderung lesu pekan ini. Pembeli menahan pembelian karena berharap harga kembali turun.

Di China, premi emas relatif stabil, ditopang kuatnya permintaan investasi. Kontras kedua pasar terbesar dunia itu memberi gambaran bahwa sentimen pembeli ritel masih terbelah.

Gaffney mengatakan harga emas saat ini sedang menguji level resistance di kisaran US$ 4.400-US$ 4.440 per troy ounce. "Jika harga mampu menembus level resistance tersebut, hal itu dapat membuka jalan bagi kenaikan harga emas lebih lanjut," ujarnya.

Bagi investor ritel di dalam negeri, pergerakan emas global ini biasanya langsung terasa di harga jual kembali Pegadaian dan Antam. Pasar akan menanti apakah level resistance US$ 4.400 benar-benar tertembus pekan depan, atau justru jadi titik balik koreksi baru.

Terkini