GPM Sultra Tembus 218 Kali Penyelenggaraan, Beras Premium Rp155 Ribu per 10 Kg Jadi Andalan

GPM Sultra Tembus 218 Kali Penyelenggaraan, Beras Premium Rp155 Ribu per 10 Kg Jadi Andalan

EDUKASIEKONOMI.COM — Pelaksanaan GPM terbaru berlangsung di Pelataran Dinas Ketahanan Pangan Sultra, Senin (24/8), bertepatan dengan rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sultra, Aris Sismanto, menegaskan bahwa intervensi pasar ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan instrumen strategis Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

"Tujuan Gerakan Pangan Murah ini untuk menstabilkan harga, untuk keterjangkauan harga, dan tentunya untuk memperkuat ketersediaan pasokan pangan kita," ujar Aris di lokasi acara. Memangkas Rantai Distribusi, Menekan Harga di Tingkat Konsumen

Mekanisme GPM mempertemukan masyarakat langsung dengan distributor, menghilangkan peran tengkulak yang kerap memperpanjang jalur distribusi. Aris menjelaskan, model ini memastikan warga menikmati harga yang nyaris sama dengan harga pokok di tingkat gudang penyimpanan.

"Dengan Gerakan Pangan Murah ini mata rantai itu kita pangkas sehingga masyarakat kita bisa menikmati harga dari distributor," jelasnya.

Berikut daftar harga komoditas yang ditawarkan dalam GPM kali ini: - Beras premium 10 kilogram: Rp155.000 - Beras SPHP 5 kilogram: Rp56.000 - Minyak goreng 1 liter: Rp20.000 - Minyak Bimoli 2 liter: Rp46.000 - Minyak Filma 2 liter: Rp45.000 - Gula pasir 1 kilogram: Rp17.500 - Telur ayam: Rp48.000 - Bawang merah 1 kilogram: Rp30.000 - Bawang putih 1 kilogram: Rp40.000 Ekspansi ke Wilayah Kepulauan dan Program Diversifikasi Pangan

Tantangan terbesar Sultra bukan sekadar inflasi, melainkan disparitas harga akibat kondisi geografis yang terdiri dari banyak kepulauan. Distribusi logistik yang rumit kerap membuat harga di daerah terpencil jauh lebih mahal dibandingkan di Kota Kendari.

Pemprov Sultra berkomitmen memperluas jangkauan GPM hingga ke pelosok dan pulau-pulau terluar. "Bapak Gubernur terus akan memasifkan Gerakan Pangan Murah ini sehingga masyarakat kita yang ada di pelosok dan juga di kepulauan bisa menikmati harga yang sama dengan yang ada di Kota Kendari," kata Aris.

Selain stabilisasi harga, pemerintah daerah mendorong diversifikasi pangan untuk mengurangi ketergantungan pada beras. Sejumlah inisiatif lokal telah berjalan, seperti gerakan makan sagu di Kabupaten Kolaka dan Gerakan Muna Makan Jagung di Kabupaten Muna.

Langkah ini dinilai strategis untuk membangun ketahanan pangan jangka panjang dengan memanfaatkan potensi lokal. Aris berharap masyarakat memanfaatkan program ini dengan bijak dan tertib.

"Dengan Gerakan Pangan Murah ini kita berharap masyarakat bisa memperoleh pangan dengan mudah, harga yang wajar, dan sesuai ketentuan," pungkasnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index