Arab Saudi Alihkan Ekspor via Selat Hormuz, Brent Turun ke US$104,82

Jumat, 18 September 2026 | 09:14:00 WIB

EDUKASIEKONOMI.COM — Harga minyak mentah Brent turun US$1,01 menjadi US$104,82 per barel pada perdagangan Kamis setelah Arab Saudi mengalihkan sebagian ekspor minyak mentahnya melalui Selat Hormuz. Langkah itu meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan global yang sempat memicu lonjakan harga.

Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga melemah 52 sen dan ditutup di US$101,91 per barel. Meski terkoreksi pada sesi tersebut, harga minyak mentah AS masih mencatat kenaikan hampir 2% sepanjang pekan ini dan melonjak lebih dari 18% sepanjang bulan.

Arab Saudi menempuh jalur alternatif dengan menyediakan kargo minyak mentah tambahan bagi kilang-kilang di Asia melalui transfer kapal-ke-kapal di luar Selat Hormuz, dekat pelabuhan Sohar, Oman. Skema itu memungkinkan kapal tanker menghindari risiko serangan Iran saat berlayar ke Teluk.

Transfer Kapal-ke-Kapal di Oman Melonjak

Direktur riset komoditas di Kpler, Matt Smith, menyebut pemuatan minyak mentah Arab Saudi di pelabuhan-pelabuhan Teluk Timur Tengah meningkat sepanjang bulan ini. Volume pemindahan minyak antar kapal di Teluk Oman naik menjadi 2,7 juta barel per hari, dibandingkan 1,5 juta bpd pada Agustus 2026.

"Namun, sulit untuk mengetahui apakah Arab Saudi atau negara-negara Teluk lainnya yang berada di balik pemindahan tersebut," ujarnya.

Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan kepada CNBC bahwa pihak Saudi bergerak cepat mengekspor lebih banyak minyak melalui Selat Hormuz dengan bantuan militer AS.

Pipa Timur-Barat Rusak, Yanbu Setop Pemuatan

Sejumlah sumber Reuters menyebut Arab Saudi menghentikan pemuatan minyak mentah di terminal ekspor Laut Merah di Yanbu dan membatalkan beberapa pengiriman ke pelanggan Eropa. Yanbu sebelumnya menjadi rute utama ekspor minyak Arab Saudi sejak Iran mulai menyerang kapal tanker di Selat Hormuz.

Serangan tersebut menyusul aksi militer AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Pihak Saudi kemudian menutup pipa minyak Timur-Barat pada akhir pekan lalu setelah pipa itu rusak akibat serangan drone yang diluncurkan dari Irak.

Proyeksi Pasokan dan Risiko Lanjutan

Wright menyatakan gangguan pipa tersebut bersifat singkat dan sementara, hanya berlangsung dalam hitungan hari. Analis independen berbeda pandangan, memperingatkan perbaikan kerusakan bisa memakan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

Rapidan Energy memperkirakan ekspor minyak mentah Arab Saudi turun 400.000 barel per hari bulan ini akibat gangguan pipa. Penurunan pengiriman dari Yanbu diperkirakan sebagian diimbangi oleh peningkatan ekspor melalui Selat Hormuz.

"Risiko tetap condong ke arah gangguan yang lebih besar jika gangguan pada pipa tersebut berlanjut hingga setelah September atau jika Iran, Houthi, atau kelompok-kelompok proksi lainnya meningkatkan serangan," demikian Rapidan Energy menilai.

Terkini