Pertamina NRE Uji Olah 300 Ton Sampah Bandung Jadi Bahan Bakar SRF

Pertamina NRE Uji Olah 300 Ton Sampah Bandung Jadi Bahan Bakar SRF

EDUKASIEKONOMI.COMPertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) menguji pengolahan sekitar 300 ton sampah perkotaan per hari di Kota Bandung menjadi bahan bakar alternatif. Proyek percontohan ini akan menentukan apakah konsep waste-to-value layak secara teknis sekaligus komersial sebelum direplikasi ke wilayah lain.

Uji coba tersebut diikat melalui penandatanganan nota kesepahaman pengembangan pilot Decentralized Waste Management (DWM) di Bandung pada Senin (14/9/2026). Fasilitas ini dirancang mengubah sampah perkotaan menjadi material yang masih bisa dipulihkan serta bahan bakar alternatif bernilai ekonomi.

Direktur Proyek & Operasi Pertamina NRE Norman Ginting menyatakan proyek ini menyasar perubahan cara pandang terhadap sampah. Menurut dia, material yang masih bernilai dapat dipulihkan, sementara fraksi ber nilai energi diolah menjadi bahan bakar dengan kualitas lebih terkontrol.

"Sampah tidak seharusnya hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai," ujar Norman dalam keterangannya, dikutip Jumat (18/9/2026).

Alur Pengolahan dari Kantong Sampah hingga SRF

Dalam rancangan awal, fasilitas mengolah sekitar 300 ton sampah per hari melalui pemilahan mekanis dan material recovery. Tahapannya mencakup pembukaan kantong, penyaringan, pemisahan magnetik, pemisahan balistik, hingga eddy current separation.

Proses itu memisahkan material yang masih dapat didaur ulang, fraksi organik dan material halus, serta fraksi mudah terbakar untuk diproses lebih lanjut. Fraksi ber nilai energi kemudian dicacah, dikeringkan, dicampur, dan dikendalikan kualitasnya untuk menghasilkan Solid Recovered Fuel (SRF).

Produk SRF berpotensi dipakai sebagai bahan bakar alternatif guna menekan konsumsi bahan bakar fosil, baik lewat co-firing di pembangkit listrik maupun untuk kebutuhan energi industri. Pertamina NRE juga mengkaji campuran sampah mudah terbakar dengan sekam padi untuk menghasilkan SRF campuran.

Kelanjutan pengembangan itu bergantung pada karakteristik bahan baku, kualitas produk, keberlanjutan pasokan, serta kebutuhan offtaker. Artinya, kepastian pasar bagi bahan bakar olahan menjadi penentu apakah model bisnis ini bisa berjalan.

Rantai Pasok Jadi Titik Kritis Proyek

Tantangan utama proyek berada pada kepastian rantai nilai. Pertamina NRE perlu memastikan pasokan sampah dengan karakteristik sesuai, kesiapan lahan dan infrastruktur, ketersediaan material pendukung, kualitas produk, hingga kepastian pihak yang menyerap hasil produksi.

Struktur awal menempatkan Pertamina NRE sebagai pengembang sekaligus operator. Pengembangan didukung pemerintah daerah serta pihak EPC, penyedia teknologi, pemasok, dan offtaker.

"Nilai teknologi proyek ini bukan hanya terletak pada mesin pengolah sampah. Yang lebih penting adalah bagaimana kita membangun sistem yang mampu mengubah sampah yang sangat heterogen menjadi material dan bahan bakar yang lebih konsisten, terukur, dan memiliki nilai ekonomi," kata Norman.

Studi Kelayakan Sebelum Konstruksi Dimulai

Setelah nota kesepahaman diteken, para pihak menjalankan studi kelayakan. Kajian mencakup karakteristik sampah dan rantai pasok, spesifikasi produk akhir, rantai pasok sekam padi, pemilihan penyedia teknologi, konfigurasi teknologi, utilitas, pekerjaan sipil, hingga aspek perizinan.

Pembangunan fasilitas pengolahan belum menjadi titik akhir proyek. Kelayakan model akan ditentukan kemampuan menghubungkan pasokan sampah dengan teknologi pengolahan dan pasar bagi produk bahan bakar yang dihasilkan.

Pertamina NRE menargetkan pilot di Bandung menjadi model pengelolaan sampah yang terbukti secara teknis, layak secara komersial, berkelanjutan secara lingkungan, dan dapat direplikasi di wilayah lain.

"Ambisi kita tidak berhenti pada pembangunan satu fasilitas. Yang ingin kita bangun adalah sebuah model," ujar Norman.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index