The Fed Naikkan Suku Bunga, Rupiah ke Rp17.730 dan Baht Tertekan

The Fed Naikkan Suku Bunga, Rupiah ke Rp17.730 dan Baht Tertekan

EDUKASIEKONOMI.COM — The Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00%, memicu penguatan dolar AS yang menekan delapan dari sepuluh mata uang Asia. Rupiah dan ringgit Malaysia sama-sama melemah 0,31%, dengan rupiah turun ke Rp17.730 per dolar AS. Hanya dolar Singapura dan yen Jepang yang mampu bertahan di zona hijau.

The Federal Reserve resmi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00%. Keputusan itu diumumkan Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia, setelah FOMC menggelar rapat dua hari.

Kenaikan tersebut menjadi yang pertama sejak Juli 2023, atau lebih dari tiga tahun terakhir. Dua belas anggota FOMC menyetujuinya secara bulat.

Dampaknya langsung terasa di pasar valuta Asia. Indeks dolar AS (DXY) menguat 0,07% ke posisi 100,324 pada Kamis pagi, melanjutkan penguatan 0,63% pada perdagangan sebelumnya.

Baht Thailand Paling Tertekan

Dari sepuluh mata uang Asia yang dipantau Refinitiv per pukul 09.19 WIB, delapan melemah terhadap dolar AS. Hanya dua yang menguat.

Baht Thailand mencatat pelemahan terdalam, turun 0,39% ke THB 33,41 per dolar AS. Rupiah dan ringgit Malaysia menyusul dengan pelemahan masing-masing 0,31%.

Rupiah berada di Rp17.730 per dolar AS, sementara ringgit bergerak ke MYR 4,095. Won Korea Selatan juga tertekan 0,29% ke KRW 1.380,8.

Dong Vietnam turun 0,10% ke VND 26.024, dolar Taiwan terkoreksi 0,09% ke TWD 31,86. Yuan China melemah 0,06% ke CNY 6,7103 dan peso Filipina turun tipis 0,01% ke PHP 62,728.

Singapura dan Jepang Bertahan

Di tengah tekanan merata, dolar Singapura justru menguat 0,09% ke SGD 1,277. Yen Jepang bertahan di zona hijau dengan kenaikan 0,08% ke JPY 156,14 per dolar AS.

Kedua mata uang itu menahan tekanan karena faktor domestik masing-masing, bukan karena kebijakan The Fed.

Alasan The Fed Bertindak Keras

The Fed menyatakan inflasi masih berada di level tinggi. Dalam rilis resminya, bank sentral AS berharap kebijakan ini mempercepat kembalinya inflasi ke target 2%.

"Inflasi masih berada di level tinggi. Kebijakan yang diambil hari ini diharapkan dapat mendukung kembalinya inflasi ke target The Fed sebesar 2% secara lebih cepat," tulis The Fed.

Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan stabilitas harga tetap menjadi fokus utama. Ia menyebut inflasi sudah bertahan terlalu lama di level tinggi.

"Kami harus yakin bahwa inflasi yang mendasari bergerak menuju target kami secara jelas dan dengan kecepatan yang memadai. Hari ini, FOMC memutuskan bahwa standar tersebut belum terpenuhi," ujar Warsh.

Peluang Kenaikan Lanjutan

Dot plot The Fed menunjukkan 16 dari 18 pejabat memperkirakan setidaknya masih ada satu kenaikan 25 basis poin lagi hingga akhir tahun. Proyeksi terbaru membuka peluang suku bunga menyentuh kisaran 4,00%-4,25% pada akhir tahun ini.

Karl Schamotta, chief market strategist Corpay, menilai kenaikan yang tegas dan didukung seluruh anggota FOMC dapat memulihkan keyakinan pasar terhadap komitmen The Fed memerangi inflasi.

"Kenaikan tegas hari ini, yang didukung seluruh anggota FOMC dan disertai peningkatan proyeksi dalam dot plot, seharusnya membantu memulihkan kepercayaan terhadap komitmen The Fed dalam melawan inflasi dan menghapus hambatan besar yang selama ini menahan dolar," ujar Schamotta.

David Krakauer, vice president of portfolio management Mercer Advisors, menilai keputusan bulat FOMC menjadi sinyal paling jelas bahwa The Fed di bawah Warsh bersatu dan siap bertindak.

"Keputusan bulat hari ini adalah sinyal paling jelas bahwa The Fed di bawah Warsh bersatu, berbasis data, dan bersedia bertindak," ujar Krakauer.

Bagi Indonesia, posisi rupiah di Rp17.730 menjadi perhatian karena menambah tekanan biaya impor dan beban utang valas korporasi. Pelaku pasar menanti langkah Bank Indonesia menjaga stabilitas kurs di tengah penguatan dolar yang belum menunjukkan tanda berhenti.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index