EDUKASIEKONOMI.COM — Kementerian Keuangan mencatat akumulasi aliran modal asing masuk ke pasar keuangan Indonesia mencapai Rp 141,6 triliun hingga kuartal III 2026. Dana asing itu mayoritas mengalir ke Surat Berharga Negara dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia, sementara pasar saham masih mencatatkan arus keluar. Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut kredibilitas pasar jadi kunci untuk menarik kembali investor ke saham.
Suahasil merinci, aliran modal ke SBN pada kuartal I 2026 masih negatif, lalu berbalik positif di kuartal II. Puncaknya terjadi pada kuartal III ketika arus masuk semakin deras.
SBN dan SRBI Jadi Tujuan Utama Investor Asing
Dari total akumulasi Rp 141,6 triliun, dana asing yang masuk ke SBN secara neto mencapai Rp 40,8 triliun. Sementara itu, aliran modal ke SRBI jauh lebih besar, yakni Rp 171,6 triliun.
"Modal masuk ke RI ke mana? pertama modal dari luar beli SBN inflow netto Rp 40,8 triliun," kata Suahasil.
Suahasil berharap arus masuk ke SRBI bisa dijelaskan lebih lanjut oleh Bank Indonesia. Meski begitu, ia memastikan koordinasi antara Kementerian Keuangan dan BI berjalan sangat erat saat ini.
Pasar Saham Masih Alami Outflow Rp 70,7 Triliun
Berbeda dengan SBN dan SRBI, pasar saham Indonesia masih mencatatkan arus keluar dana asing. Sepanjang 2026 hingga kuartal III, outflow di pasar saham mencapai Rp 70,7 triliun.
Suahasil menilai kondisi ini perlu diperbaiki. Menurutnya, kredibilitas pasar menjadi faktor penentu apakah investor mau menanamkan dananya di saham Indonesia.
"Ini perlu diperbaiki kalau pasar saham kita nanti lebih kredibel. Kuncinya kredibilitas. Kalau kredibel investor yakin beli saham di RI," ujarnya.
Meski secara akumulasi masih negatif, ada sinyal pemulihan. Pada pertengahan September 2026, tepatnya hingga 11 September, pasar saham mencatatkan inflow sebesar Rp 2,9 triliun.
"Jadi ini ada suatu pergerakan yang baik, tentu ini harus kita perhatikan dengan baik ke depannya," kata Suahasil.
Dampak Kenaikan Fed Fund Rate ke Imbal Hasil SBN
Suahasil juga menyoroti dampak kenaikan Fed Fund Rate (FFR) terhadap pasar keuangan domestik. Ia menyebut pergerakan imbal hasil SBN akan selalu mengikuti dinamika pasar global.
"Kemarin FFR naik pasti ada dampak ke RI yang dilakukan pengelolaan makro kita adalah meminimalkan dampak negatifnya. IHSG turun Januari sampai Juli lalu ada mulai periode pemulihan," ujarnya.
Pemerintah, lanjut Suahasil, terus menjaga stabilitas makro agar guncangan eksternal tidak merembet ke sektor keuangan. Koordinasi dengan bank sentral menjadi bagian dari strategi tersebut.
Apa Artinya bagi Investor dan Pelaku Pasar
Bagi investor obligasi, derasnya arus masuk ke SBN dan SRBI menandakan permintaan terhadap instrumen berpendapatan tetap Indonesia masih kuat. Ini bisa menekan imbal hasil atau yield SBN ke level yang lebih rendah.
Sebaliknya, outflow di pasar saham mencerminkan kehati-hatian investor global terhadap aset berisiko. Pemulihan inflow Rp 2,9 triliun pada September menjadi indikasi awal bahwa sentimen mulai membaik.
Kredibilitas kebijakan fiskal dan moneter akan menjadi faktor utama yang menentukan arah arus modal hingga akhir tahun. Investor umumnya menunggu sinyal konsistensi dari pemerintah dan BI sebelum menambah porsi di pasar saham.