EDUKASIEKONOMI.COM — Danantara Indonesia telah menghapus 290 entitas BUMN melalui merger, likuidasi, dan divestasi hingga Agustus 2026. Langkah ini merupakan bagian dari restrukturisasi besar yang dijuluki "Prabowonomics" oleh Profesor Hubungan Internasional Webster University, Rovshan Ibrahimov. Ia menilai keberhasilan model ini tetap bergantung pada kemampuan pemerintah mengelola risiko dan mengambil keputusan sulit.
Profesor Hubungan Internasional Webster University, Rovshan Ibrahimov, menyoroti arah kebijakan ekonomi Presiden Prabowo Subianto yang tertuang dalam analisisnya di The Telegraph. Fokus utamanya adalah restrukturisasi badan usaha milik negara dan pembentukan Danantara Indonesia.
Ibrahimov menilai restrukturisasi BUMN merupakan langkah besar karena menyasar struktur yang telah berkembang selama puluhan tahun. Ia menyebut rangkaian kebijakan tersebut sebagai "Prabowonomics".
1.074 Entitas BUMN Teridentifikasi, Jauh di Atas Perkiraan Awal
Pemetaan terhadap BUMN menemukan 1.074 entitas, jauh di atas perkiraan awal sekitar 300-400 entitas. Hingga Agustus 2026, Danantara disebut telah menghapus 290 entitas melalui merger, likuidasi, dan divestasi.
Menurut Ibrahimov, skala temuan itu menunjukkan betapa dalamnya struktur yang harus dibenahi. "Untuk mencabut struktur yang telah berakar kuat, diperlukan tangan yang cukup tegas," kata Ibrahimov seperti dikutip The Telegraph, Jumat (18/9).
Danantara Jadi Instrumen Kunci Hilirisasi dan Lapangan Kerja
Ibrahimov menempatkan Danantara sebagai instrumen penting dalam Prabowonomics. Lembaga itu tidak hanya mengelola aset negara untuk kepentingan investasi, tetapi juga diarahkan mendukung prioritas pembangunan.
Dua prioritas yang disebut adalah hilirisasi dan penciptaan lapangan kerja. Keduanya menjadi bagian dari agenda pembangunan yang ingin dipercepat melalui konsolidasi BUMN di bawah Danantara.
Kritik atas Kewenangan Besar dan Akuntabilitas ke Presiden
Ibrahimov juga menyoroti kritik terhadap besarnya kewenangan Danantara serta pertanggungjawabannya kepada Presiden. Kritik itu muncul di tengah skala restrukturisasi yang berjalan cepat.
Menurutnya, keberhasilan model tersebut tetap bergantung pada kemampuan pemerintah mengelola risiko dan mengambil keputusan sulit. Dua faktor itu menjadi penentu apakah Prabowonomics berjalan sesuai target atau justru memunculkan persoalan baru.
Apa Artinya bagi Pasar dan Pelaku Usaha
Pemangkasan 290 entitas BUMN berarti lanskap badan usaha negara berubah signifikan. Bagi investor, jumlah entitas yang lebih ramping berpotensi mempermudah pemetaan kinerja dan tata kelola perusahaan pelat merah.
Namun, besarnya kewenangan Danantara dan garis pertanggungjawaban langsung ke Presiden menjadi perhatian tersendiri. Pelaku usaha yang bermitra dengan BUMN perlu mencermati arah konsolidasi ini, terutama pada sektor yang masuk prioritas hilirisasi.
Ibrahimov menegaskan bahwa model Prabowonomics belum selesai diuji. Hasil akhirnya akan terlihat dari bagaimana pemerintah menyeimbangkan percepatan restrukturisasi dengan pengelolaan risiko yang terukur.