EDUKASIEKONOMI.COM — Tiga zona megathrust di Indonesia kini dipantau ketat karena sudah lama tidak melepaskan energi besarnya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memetakan 14 segmen megathrust di seluruh wilayah Indonesia, dengan sebagian di antaranya berada di jalur padat penduduk seperti selatan Jawa dan barat Sumatra. Pakar geologi dan kebencanaan menilai persiapan menghadapi potensi ini jauh lebih mendesak dibanding perdebatan soal waktu terjadinya.
Zona megathrust bukan struktur baru yang tiba-tiba muncul. Gayatri Indah Marliyani, pakar gempa dari Universitas Gadjah Mada sekaligus Kepala Laboratorium Geologi Dinamik UGM, menjelaskan zona ini sudah terbentuk selama jutaan tahun sebagai bagian dari sistem tektonik Indonesia.
"Yang perlu dipahami masyarakat, megathrust bukan sesuatu yang baru muncul atau tiba-tiba terbentuk. Zona ini sudah ada selama jutaan tahun sebagai bagian dari sistem tektonik Indonesia," kata Gayatri saat dihubungi, Senin (14/09).
Bagaimana Megathrust Bekerja dan Memicu Tsunami
Megathrust adalah zona patahan raksasa yang terbentuk di batas dua lempeng tektonik pada zona subduksi, ketika satu lempeng menunjam ke bawah lempeng lain. Indonesia berada di persimpangan tiga lempeng aktif dunia: Pasifik, Eurasia, dan Indo-Australia.
Pemicu gempa berasal dari akumulasi tegangan tektonik jangka panjang. Lempeng bergerak beberapa sentimeter per tahun, sementara bidang kontak antarlempeng bisa terkunci akibat gesekan. Ketika tegangan melampaui kekuatan gesekan, bagian yang terkunci bergeser tiba-tiba dan melepaskan energi gempa.
"Jadi sebenarnya tidak diperlukan sebuah 'pemicu' khusus dari luar," ujar Gayatri.
Ancaman Primer dan Sekunder yang Mengintai Pesisir
Nuraini Rahma Hanifa, peneliti ahli Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, menambahkan bahwa pergeseran bidang megathrust memiliki pola naik dengan pusat di bawah laut. Karena berada di bawah air, pergerakan itu mendorong air ke segala arah hingga mencapai pesisir dan berpotensi menimbulkan tsunami.
Nuraini mengklasifikasikan ancaman megathrust menjadi dua. Ancaman primer mencakup goncangan gempa permukaan dan surface rupture. Ancaman sekunder meliputi tsunami, longsor, likuifaksi, dan kebakaran.
"Kita bisa hidup berdampingan dengan fenomena megathrust, dan bukan sesuatu yang harus ditakuti. Kita memang harus hidup bersama dengan megathrust, apalagi kita berada di negara kepulauan," kata Nuraini.
Jejak Gempa Besar di Jawa dalam Tiga Dekade Terakhir
Gayatri mencatat megathrust sudah pernah terjadi di Jawa dalam 32 tahun terakhir. Peristiwa pertama adalah gempa besar disertai tsunami destruktif di Banyuwangi Selatan pada 1994. Peristiwa kedua adalah gempa besar diikuti tsunami di Pangandaran pada 2006.
Segmen megathrust tersebar di barat Sumatra, Selat Sunda, selatan Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara, dan sistem subduksi lain di Indonesia timur. Karena dimensinya luas, Gayatri menegaskan tidak ada satu "titik megathrust" tertentu yang sedang menunggu pecah.
Beberapa segmen mendapat perhatian lebih karena dalam catatan sejarah belum mengalami gempa besar dalam waktu relatif lama.
Mengapa Pencegahan Lebih Penting dari Reaksi
Ketua Umum Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI), Avianto Amri, menyatakan Indonesia hidup dengan risiko kebencanaan, termasuk potensi megathrust. Menurut dia, pencegahan perlu dikedepankan karena investasi mitigasi dapat menekan jumlah korban dan kerugian di masa depan.
"Mengapa kita bersedia mengeluarkan biaya yang sangat besar setelah bencana terjadi, tapi masih ragu menginvestasikan sebagian dari sumber daya tersebut untuk mencegah kerugian? Kita sudah terlalu lama membayar setelah bencana," ujar Avianto.
Informasi soal megathrust berbentuk potensi, bukan prediksi, sehingga waktu terjadinya tidak bisa diketahui secara detail. Justru karena itu, persiapan menjadi kunci agar masyarakat tidak reaktif setelah bencana terjadi.
"Tujuan pembicaraan mengenai megathrust seharusnya bukan membuat masyarakat bertanya, 'Kapan gempa besar itu terjadi?', tetapi mengubah pertanyaannya menjadi, 'Kalau suatu saat terjadi, apakah kita sudah siap?'," ucap Gayatri.
Dengan 14 segmen yang sudah dipetakan BMKG, tiga di antaranya dipantau ketat, kesiapan menghadapi megathrust berpulang pada seberapa serius mitigasi dijalankan sebelum energi itu dilepaskan.