Rita Flores Ungkap Tiga Tahun Direkrut FSB Rusia untuk Intai Aktivis

Rita Flores Ungkap Tiga Tahun Direkrut FSB Rusia untuk Intai Aktivis

EDUKASIEKONOMI.COM — Rita Flores, seniman dan mantan anggota kolektif Pussy Riot, mengungkap tiga tahun kerja sama dengan dinas keamanan FSB Rusia dalam wawancara media pertamanya sejak meninggalkan negaranya. Ia mengaku direkrut lewat ancaman pembunuhan terhadap ibunya dan baru memutus hubungan itu setelah melarikan diri dari Rusia.

Pengakuan Flores disampaikan dalam wawancara eksklusif yang diterbitkan setelah ia meninggalkan Rusia pada akhir Agustus. Ia lebih dulu mempublikasikan rincian kerja samanya lewat diskusi video bersama pengacaranya, Dmitry Zakhvatov.

Flores berharap langkahnya membuka jalan bagi orang lain yang terjebak situasi serupa. "Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, saya merasa tenang. Selama ini saya bermimpi bisa keluar dan menceritakan semuanya," ujarnya.

Ancaman Pembunuhan dan Uang Tutup Mulut

Rekrutmen bermula dari penggeledahan polisi pada Februari 2023. Dua pria yang tinggal setelah penggeledahan memperkenalkan diri sebagai petugas FSB.

Mereka mengancam membuka kasus pidana berdasarkan undang-undang sensor masa perang atas unggahan Instagram Flores yang mengkritik pembunuhan warga Ukraina oleh Rusia. Ancaman lain: ibu Flores bisa dibunuh jika ia menolak menandatangani surat kerja sama.

"Saya percaya mereka. Saya percaya mereka bisa melakukan semua yang mereka katakan. Ketakutan saya terlalu besar," kata Flores. Sebagai imbalan tanda tangan, ia menerima pembayaran tunai sekali sebesar 30.000 hingga 40.000 rubel (sekitar £266 sampai £355).

Tugas Pertama: Memata-matai Kalangan Seniman Oposisi

Tugas awal Flores adalah mengumpulkan informasi tentang seniman oposisi di lingkaran yang sama, lalu melaporkannya ke FSB. Dua petugas perekrut menjadi penangan tetapnya.

Ia menyebut salah satu petugas senior sebagai "the Jacket" — pria berusia akhir empat puluhan yang gemar memakai jas hitam mengilap dan memperkenalkan diri dengan berbagai nama berbeda. Petugas junior bernama Ivan menjadi penangan utama dan kerap bersikap ramah.

"Setiap kali saya bertemu Ivan dan the Jacket bersama, Ivan diam. The Jacket kasar, mengancam, menghina saya sebagai perempuan. Dia jelmaan iblis," kenang Flores.

Ivan disebut sering melontarkan kalimat seperti, "FSB akan mendidik ulang kamu, saya akan mendidik ulang kamu, kamu akan hidup tenang, mencintai Rusia, punya anak, dan jadi istri yang patuh."

Tekanan Psikologis dan Upaya Melindungi Target

Flores mengaku sebenarnya dilarang menceritakan rekrutmennya, tetapi ia langsung memberi tahu sekitar 20 orang. Meski begitu, ia menahan diri untuk tidak membocorkannya kepada kalangan seni yang menjadi target laporannya.

Ia justru sengaja memicu konflik dengan mereka agar menjauh dan tidak membagikan informasi sensitif. Kedua penangan terus menekan secara psikologis dengan mengulang ancaman.

"Dia berusaha berteman, tapi bisa juga mengancam. Dia dengan tenang berkata, 'mereka akan membunuh ibumu dan kamu tidak bisa membuktikan apa pun', lalu tertawa seolah itu lelucon," kata Flores tentang Ivan.

Moskow di Masa Perang dan Pilihan Para Seniman

Seiring waktu, target yang bisa dilaporkan makin sedikit karena sebagian besar seniman oposisi meninggalkan Rusia. Flores menggambarkan kehidupan di Moskow masa perang sebagai disonansi kognitif.

"Moskow berkembang pesat; restoran, bar, dan klub baru bermunculan, acaranya sangat banyak. Tapi orang-orang yang paham keadaan punya mata kosong dan kata-kata kosong," ujarnya.

Seniman yang memilih bertahan, kata Flores, sangat hati-hati agar tidak menghasilkan karya yang dianggap bersinggungan dengan politik. "Mereka yang tinggal di Rusia sudah menerima aturan permainan," tutupnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index