Nelayan Cilacap Beralih Tangkap Ubur-ubur, Harga Tembus Rp1.100 per Kg

Jumat, 18 September 2026 | 14:08:00 WIB

EDUKASIEKONOMI.COM — Ubur-ubur mendominasi hasil tangkapan nelayan Cilacap selama dua bulan terakhir musim angin timur. Dinas Perikanan Kabupaten Cilacap menyebut komoditas ini mudah diserap pengepul dan eksportir, dengan harga jual di wilayah Jetis mencapai Rp1.100 per kilogram.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Cilacap Indarto mengatakan, melimpahnya ubur-ubur membuat nelayan kapal kecil beralih menangkap komoditas tersebut. Akibatnya, aktivitas pelelangan ikan di sejumlah tempat pelelangan ikan (TPI) justru cenderung sepi.

Menurut Indarto, nelayan dengan kapal berukuran di bawah 5 gros ton (GT) lebih memilih menangkap ubur-ubur karena hasilnya langsung diserap pasar. "Dengan adanya ubur-ubur, tangkapan nelayan meningkat. Sudah memasuki bulan kedua dan memang sedang mendominasi," katanya.

Harga Ubur-ubur di Cilacap dan Jetis

Harga jual ubur-ubur di wilayah perkotaan Cilacap saat ini Rp800 per kilogram. Sementara di wilayah Jetis mencapai Rp1.100 per kilogram.

Indarto menyebut harga tersebut relatif sama dengan kisaran beberapa tahun terakhir. Artinya, lonjakan hasil tangkapan tidak diikuti kenaikan harga yang signifikan.

Rantai Pasok hingga Ekspor ke Asia Timur

Ubur-ubur hasil tangkapan nelayan dijual ke pengepul, lalu dikirim ke eksportir di luar wilayah Cilacap. Setelah melalui proses pengeringan, komoditas ini dikirim ke eksportir di Jakarta.

Dari Jakarta, ubur-ubur diekspor ke sejumlah negara Asia Timur seperti China dan Jepang. Negara tujuan mengolahnya menjadi bahan makanan maupun kosmetik.

Dalam sehari, kapal fiber berukuran sekitar 5 GT yang melaut sejak pagi dapat melakukan hingga tiga kali perjalanan. Setiap perjalanan menghasilkan sekitar 1 ton ubur-ubur.

Kapal tersebut biasanya ditumpangi dua nelayan. Jarak tempuh penangkapan tidak terlalu jauh, sekitar 4 mil laut dari bibir pantai atau di jalur 1 penangkapan.

"Daerah tangkapan ubur-ubur sekitar jalur 1 penangkapan atau berjarak sekitar 4 mil laut dari bibir pantai, sehingga kebutuhan bahan bakar minyak untuk operasional kapal fiber tidak terlalu banyak," kata Indarto.

Produksi TPI Tidak Terekam Data Koperasi

Ketua Koperasi Unit Desa (KUD) Mino Saroyo Cilacap Untung Jayanto mengatakan, ubur-ubur yang ditangkap nelayan umumnya langsung dijual kepada pengepul. Karena itu, komoditas ini tidak masuk dalam data produksi TPI yang dikelola KUD.

"Banyak, tapi itu langsung ke pengepul, tidak terdata di koperasi," katanya.

Saat ini aktivitas pelelangan ikan hanya berjalan di TPI Tegalkatilayu dan TPI Dermaga 3 Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Cilacap. Aktivitas pelelangan di TPI Kemiren dialihkan ke Dermaga 3 PPS Cilacap.

Nilai produksi hasil pelelangan ikan pada Agustus 2026 mencapai sekitar Rp14 miliar. "Kalau bulan Juli masih di bawah Rp14 miliar. Semoga ke depan masih bisa meningkat," kata Untung.

Peluang Ekspor dan Catatan bagi Nelayan

Dominasi ubur-ubur membuka peluang pendapatan tambahan bagi nelayan kapal kecil. Biaya operasional yang rendah karena jarak tangkap dekat membuat margin usaha lebih terjaga.

Indarto memperkirakan penangkapan ubur-ubur masih berlangsung sekitar dua bulan ke depan. Musim kemarau dan periode sebelum hujan menjadi penentu berlanjutnya pasokan.

Bagi pelaku usaha perikanan, ketergantungan pada pengepul menjadi catatan tersendiri. Harga di tingkat nelayan bergantung pada rantai pasok yang belum terdata resmi di koperasi setempat.

Terkini