Rupiah Menguat ke Rp 17.713 per Dolar AS, Sinyal The Fed dan BoJ Jadi Pemicu

Rupiah Menguat ke Rp 17.713 per Dolar AS, Sinyal The Fed dan BoJ Jadi Pemicu

EDUKASIEKONOMI.COM — Setelah ditutup melemah ke Rp 17.722 per dolar AS pada Senin (31/8), rupiah langsung bangkit di sesi awal perdagangan. Data Bloomberg pukul 09.05 WIB mencatat penguatan 0,05 persen, membawa mata uang garuda ke posisi Rp 17.713 per dolar AS.

Penguatan ini sejalan dengan tekanan yang dialami dolar AS di pasar global. Indeks dolar, yang mengukur pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, turun ke level 99,37.

Dolar Tertekan Sinyal The Fed dan BoJ

Pelaku pasar tengah memantau sinyal kebijakan moneter dari dua bank sentral besar. Di Amerika Serikat, pernyataan hawkish Ketua Federal Reserve Kevin Warsh memicu spekulasi kenaikan suku bunga pada September mendatang. Namun alih-alih menguat, dolar justru terkoreksi.

Di sisi lain, dorongan menaikkan suku bunga juga datang dari Bank of Japan. Menteri Keuangan AS Scott Bessent dilaporkan mendesak BoJ untuk menaikkan suku bunga pada akhir bulan ini. Tekanan dari dua arah ini membuat dolar kehilangan tenaga.

Yen Stabil, Euro dan Pound Menguat

Yen Jepang bergerak stabil di kisaran 159,81 per dolar AS pada Selasa pagi. Euro tercatat di level US$ 1,1623 per dolar AS setelah melonjak hampir 1 persen sepanjang Agustus. Poundsterling juga menguat 0,5 persen dalam sebulan terakhir, berada di posisi US$ 1,35575 per dolar AS.

Dolar Australia dan Selandia Baru turut menguat masing-masing ke US$ 0,7172 dan US$ 0,5921 per dolar AS.

Analis: Pelemahan Dolar Bukan karena Fundamental

Ahli strategi mata uang Commonwealth Bank of Australia, Carol Kong, menilai koreksi dolar kali ini lebih banyak didorong oleh penilaian ulang pasar terhadap sikap The Fed, bukan faktor fundamental ekonomi.

"Patut dicatat bahwa kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi Treasury gagal menopang USD," kata Carol Kong.

"Pelemahan USD semalam mungkin mencerminkan penilaian ulang pasar mengenai apakah sikap hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh cukup untuk memulihkan kredibilitas The Fed. Meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga BoJ pada bulan September juga menambah tekanan pada USD," ungkapnya.

Bagi pasar Indonesia, penguatan rupiah ini memberi ruang napas setelah tekanan pekan-pekan terakhir. Namun pergerakan masih rentan, mengingat keputusan suku bunga The Fed pada September akan menjadi penentu arah selanjutnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index